Give Your Talent to Build a Better World

BIARAWATI yg membantu kaum bawah tanah Kristen IRAQ 4-18-2008

Kristen Assyria IRAK – kaum yg paling menderita dlm perang Iraq ini. Gereja2 mereka diBOM, perempuan2 dan anak2 diperkosa, disalib, dicincang, ditembak mati dan mayat2 mereka dilempar ke tempat penimbunan sampah, bahkan uskup besar mereka baru2 ini diculik dan ditembak mati.
http://www.christiansofiraq.com/bombed.html

‘Begitu Saddam jatuh, muslim2 fanatik mulai mengirimkan kami surat2 ancaman agar kami MASUK ISLAM atau meninggalkan negeri ini atau ‘bersiap2lah utk mati.’ Suatu hari, orang2 bermasker menyerang rumah kami, mengikat suami saya dan SATU PER SATU MEREKA MEMPERKOSA SAYA DIDEPAN SUAMI SAYA. Setelah insiden itu kami memutuskan utk kabur dari tanah kami yg sudah dihuni kaum
kami huni selama 2000 thn ini,” demikian kesaksian salah seorang korban.

Perang Iraq membawa penderitaan yg tidak dapat dibayangkan, berjuta cerita berbeda tentang kesedihan, kekerasan, dan pengasingan. Namun dlm perang ini, tindakan keji yg jarang diucapkan adalah tindak pidana PEMERKOSAAN.
Dan bagi kaum KRISTEN IRAK, khusunya, ini sebuah kisah yg saking seringnya terulang sampai tidak lagi dapat diacuhkan. Tetapi, tragisnya untuk banyak wanita yang mengungsi, penderitaan mereka
tidak berakhir di perbatasan.

Sekitar 13.000 pengungsi Kristen Irak kini berada di Turki, termausk 7.000 orang di Istanbul, di kawasan2 yg paling miskin, di gedung2 atau lantai2 bawah tanah yg tidak layak huni, tidak memiliki saluran air atau tingkat higiene memadai.

Kamar2 bawah tanah ini basah, bau karena mereka berada dibawah saluran air. Mereka sendiri tidak memiliki toilet. Lebih dari 80 orang per kamar(bawah tanah) hidup, masak dan makan, menggali lubang2 utk buang air. Memang baunya busuk,tetapi mereka tidak memiliki pilihan; pulang kembali ke Iraq sama saja dgn bunuh diri.

Akomodasi mereka dikuasai oleh gang2 kriminal, yg menuntut uang sewa US$50/£24 per orang (termasuk anak2) per bulan. Mereka yg tidak dapat melunasi, akan dilempar ke jalanan. Karena mereka pengungsi ilegal, mereka tidak dapat mencari pekerjaan ataupun berjalan keluar karena karena mereka
akan ditangkap polisi atau – lebih parah lagi – dikirim kembali ke perbatasan (Irak).

Beberapa wanita menemukan pekerjaan sebagai pembantu dimana mereka dibayar dengan upah yang minim termsuk juga gangguan, penganiayaan, dan bahkan pelecehan. Jika mereka melapor kpd polisi, mereka akan dilempar ke penjara. Mati kelaparan atau menderita penyakit merupakan hal yg lumrah.

NAMUN Sister Hatune — yg kini mendapat julukan Ibu TERESA dari IRAQ –merupakan salah seorang malaikan penyelamat. Yayasan Sister Hatune yg bermarkas di India, dgn cabang2 di Eropa dan AS, didirikan thn 1992 utk membantu mereka yg tuna wisma, berpenyakitan, korban2 tragedi alam dan
pengungsi2 yg ditekan karena agama mereka. Lahir di Turki Tenggara, dari sisa2 penduduk Assyria. http://www.sisterhatunefoundation.com/iraq.htm

Ia tadinya bertugas di India di tahun 90an, namun karena perang Irak dan exodus Kristen, ia kini mengalihkan perhatiannya ke saudara2 Kristennya tersebut. Sekitar 3.5 juta pengungsi Iraq terdapat di negara2 tetangga, termasuk 2.2 juta di Syria dan 750.000 di Yordania. Namun yg paling menyedihkan adalah nasih sekitar 600.000 Kristen Irak.

Kunjungan Suster Hatune, dimana ia memberikan Uang dan Pakaian, disebut2 sebagai bantuan perpanjangan dari Tuhan (Yesus tentunya, bukan yang lainRed)

“Memang menyedihkan melihat ibu2 kurus ini mencoba keras menyusui anak2 mereka,” katanya. “Kelaparan memang hal yg sangat berat bagi manusia dan banyak ibu2 terpaksa menjual diri mereka bagi sandang dan pangan. Saya ketemu banyak keluarga yg dgn rela menjual diri mereka demi sepotong roti.

Suster Hatune, seorang yang lembut, dan murah senyum dengan aksen antara timur tengah dan eropa tengah, telah dapat membuat para gadis2 untuk berbicara bebas mengenai penderitaan mereka. Beberapa cerita, melibatkan gadis dibawah umur, sangat2 mengerikan untuk diberitakan. Banyak Gadis2
kecil dan Wanita dewasa mempunyai banyak luka memar di sekujur tubuh mereka. Untuk keamanan, nama mereka tidak dicantumkan.

Helena adalah sebuah contoh khas. Sebelum perang, ibu berusia 47 thn ini, anggota gereja Assyria, tinggal di Baghdad dgn suaminya yg bekerja sbg tukang listrik, ibu mertuanya dan kedua puterinya berusia 18 dan 7 tahun.

Setelah jatuhnya Bagdad bln April 2003, militan2 Islam memulai kampanye teror mereka. Pertama, mereka mengirim surat ancaman kepada keluarga2 Kristen, meminta mereka memeluk Islam atau meninggalkan negara(Irak). Surat2 itu tidak digubris oleh keluarga tsb(Keluarga Helena). Tapi suatu
hari, didepan rumahnya suaminya dihujani peluru dari senapan mesin saat pulang kerja.Dua minggu setelah pembunuhan suaminya, Helena menerima surat lainnya dan mengontak seorang penyelundup.Mereka terpaksa melarikan diri ke Istanbul, dimana mereka tinggal di sebuah kamar bawah tanah dgn 40 pengungsi Kristen lainnya. Mereka tidak membawa satu barangpun yg
mengingatkan mereka pada hidup mereka dulu yg makmur itu.

Beberapa minggu setelah ketibaan mereka di Istanbul, seorang mucikari setempat menawarkan mereka uang SBG GANTI PUTERI TERTUA MEREKA.

“4 hari dlm keadaan sanat lapar memaksa keluarga itu MENJUAL PUTERI MEREKA utk satu malam KPD SEORANG MUSLIM KAYA.”kata Suster Helena.

Keesokan harinya, sang gadis 18 thn itu kembali ke rumah mereka dgn bekas2 luka pada tubuh dan pikirannya. “Pelaku sadist itu menyundut tubuhnya dengan rokok.”(Kata Suster Hatune) Ia mencoba bunuh diri. Keluarganya tidak bisa melakukan apapun kecuali menangis dan berdoa.

Setiap keluarga di Camp pengungsian mempunyai cerita2 tersendiri.Cerita Ibu Salam juga tidak kalah tragis. Wanita 27 thn itu tiba di Turki bln Agustus lalu dari Mosul. Ibu dua anak – usia 4 thn & 18 bln – spt umumnya keluarga Kristen lain, hidup nyaman dgn suami yg bekerja pada perusahaan minyak. “Kami termasuk kaya, punya rumah dan mobil dan hidup dgn damai dibawah periode Saddam Hussein,” katanya. Ia DIPERKOSA RAME2 didepan suaminya dan hanya berhasil kabur dgn bantuan gang penyelundup, sambil menyamar dlm busana Muslim.

Kristen Irak di Istanbul; tadinya kaya, kini melarat, tersiksa, dilecehkan, hidup sbg pengungsi dan tergantung dari sumbangan

“Kami membawa seluruh barang2 berharga dan Uang kami saat kami meninggalkan rumah. di jalan, kami bertanya pada penyelundup berapa banyak kami harus membayar untuk pergi ke Turki.” Ia berkata, ” Apa saja yang kau punya, itu adalah biayanya/ongkosnya”. Saat kami sampai dekat perbatasan Turki, dia dan anggota gengnya menggeledah tubuh kami dan harta kami dan mengambil seluruhnya. Ada juga keluarga lain bersama kami, dan nasib yang sama menimpa mereka.

“Ketika kami dibiarkan begitu saja di Turki, seluruh harta kami yg tersisa dikuras oleh penyelundup. Satu2nya harta yg masih kami punya adalah baju2 pada tubuh kami. Bahkan cincin emas saya(yang didapatkan dengan memohon2) sudah saya jual utk sepotong roti.”

Sbg korban pemerkosaan, Ibu Salam sulit menerima keadaannya ini. “Saya malu memandang orang lain. Mereka kenal saya, mereka juga tahu bahwa saya diperkosa. Saya tidak dapat menceritakan perasaan saya pada orang saya. Kadang saya merasa tidak lagi sanggup hidup.

“Tetangga2 Muslim kami pun berbalik memusuhi kami. Kami tidak lagi punya teman ataupun bantuan. Kami takut kami akan dibunuh begitu kami kembali. Kami hanya bisa berdoa agar Tuhan (Yesus tentunya, bukan yang lain-Red) membebaskan kami dari neraka ini.”

Setelah pembunuhan Uskup Besar Paul Rahho, pemimpin gereja Chaldean Catholic di Iraq utara, sejumlah Kristen Irak mulai bersembunyi dibawah tanah, di catacombe spt nenek moyang mereka di abad 1M. Ini adalah sentimen, kata Ibu Salam.

“Kepercayaan saya kuat, karena nenek moyang kami adalah orang2 yg kuat kepercayaannnya dan penderitaan mereka jauh lebih parah dari yg kami rasakan sekarang. Kami percaya bahwa penderitaan ini akan menguatkan kehidupan spiritual kami. Suatu saat saya bertanya: ‘Mengapa Tuhan tidak
menyelamatkan saya?’ Tetapi Tuhan (Yesus tentunya, bukan yang lain-Red) mengirimkan bantuannya melalui orang2 untuk menolong kami, dan Aku percaya Ia akan menyelamatkan saya. Kedatanganmu adalah perwujudannya” (Kata Ibu Salam kepada Suster Hatune-Red)

Yayasan Suster Hatune memberikan gandum, tepung, gula, dan pakaian melalui jalur darat, dibantu oleh Indian Chapter, YMCA, dan Jubilee Campaign di Inggris. Pemerintah Syria juga membantu dengan Damaskus pusat untuk menyediakan bahan2. Yang penting dari semuanya, adalah, Uang-Tanpa
pekerjaan, dan banyaknya lelaki mereka yang meninggal, Para Wanita sering tidak terlindungi dan tercukupi. Suster Hatune, dengan bantuan dari Yellow Christian di Eropa dan lainyya, juga menyediakan uang untuk seorang wanita, Ibunya, dan 2 adiknya untuk dapat hidup dan makan selama 6 bulan, Jadi saudara mereka yang berumur 18 tahun tidak lagi perlu untuk menjual diri.

“Saat kuberikan uang, Ia berlutut dan berterimakasih untuk para dermawan yang menyumbang, dan bukan untukku,” Kata Suster Hatune.

Sr Hatune, dgn bantuan sumbangan yayasannya, mampu melunaskan uang sandera bagi seorang gadis 13 thn yg diculik dan diperkosa selama dua minggu sampai gang penculik itu membebaskannya dgn uang ganti US$9.000/£4,000..

Keluarga lainnya yang mereka bantu terdiri dari anak umur 16 tahun dan ayah tirinya yang lumpuh dan Ibunya yang sakit mental. Saudara laki2nya yang berumur 22 tahun menghilang. Militan Islam menculik gadis itu dan menyekapnya selama 4 bulan dimana ia disiksa. Bersama tetangga Kristennya, yang diperintahkan untuk murtad atau mati, akhirnya mereka kabur.

“Empat orang memperkosanya. Saat menceritakan kisahnya, Ia gemetar dan gugup kemudian pingsan. Aku mencoba untuk menopangnya ditangan. Tim kami membayar uang sewanya selama 6 bulan.

Di hari terakhirnya di Istanbul, Suster Hatune dengan sebuah pick-up tiba di penginapan para pengungsi dan menyalurkan pakaian dan uang. di hari yang sama grup bertemu 6 keluarga yang baru tiba di Turki dan tidur di tanah tanpa selembar alaspun. Suster Hatune memberikan memberi mereka kasur, pakaian, dan £80 setiap orang.

Ayah dari satu keluarga telah dibunuh sehingga muslim bisa mengambil jabatannya di bidang perminyakan, dan Istrinya dipaksa menjual dirinya untuk memenuhi kebutuhan. Suster Hatune memberikannya £800 untuk memenuhi kebutuhan selama 6 bulan.

Bulan depan, Sr Hatune akan ke Yordania, dimana skala penderitaan pengungsi Kristen disana JAUH LEBIH PARAH daripada di Turki. UTk itu Sr Hatune meminta kpd Umat Kristen2 diseluruh dunia agar merogoh kantong mereka dalam2 utk membantu mereka. Seorang janda yang dipaksa menjual dirinya
berkata kepadanya(Suster Hatune): “Para dermawan yang membantu kami adalah malaikat yang menyelamatkan kami dari neraka.”

Jika berniat untuk membantu, tolong kirimkan cek kepada “Assyrian Aid Society”, dan kirimkan ke perkumpulan di 36 Crossway, London W13 0AX,dengan pesan berisikan bahwa sumbangan untuk Suster Hatune.

www.catholicherald.co.uk

Maria Magdalena Ministries

Maria Magdalena Ministries didirikan oleh Indri Gautama, seorang rasul yang berkarya di Indonesia. Khotbah-khotbahnya sangat jelas, menemplak bagi orang-orang yang mendengarnya. Pengajarannya sungguh luar biasa dan membukakan mata dan pengertian akan Firman Allah.
Dengan MMM, kita bisa ikut membantu teman-teman agar ada di dalam Tuhan.

http://www.mmmindo.org/thankyou.html

Link Many Ministries
http://jeshurun8.wordpress.com/

This entry was posted in Religi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Notify me of followup comments via e-mail. You can also subscribe without commenting.