Thanks God, I live in this time period

Hobiku membaca. Dan jika aku sedang membaca cerita-cerita atau kisah-kisah yang menggambarkan wanita zaman dulu, betapa merasa beruntungnya aku dilahirkan dan dibesarkan di zaman sekarang ini. Ketika aku mendengar kisah nenekku yang hanya makan berupa nasi dan kuah ayam walaupun secara ekonomi dia terlahir sebagai putri dari keluarga kaya, membuatku merasa benar-benar prihatin pada kehidupan wanita pada jaman itu. Tidak mengherankan saat itu tingkat kematian para wanita sewaktu melahirkan sangat tinggi.Dan rasanya sangatlah masuk akal juga jika banyak wanita pada masa itu tidak mengenyam pendidikan.

Pernah aku membaca suatu artikel dimana nasib wanita pada dunia barat juga tidak jauh berbeda dengan wanita dunia timur, mulai dari kesempatan mengenyam pendidikan hingga dalam berkarier. Sangatlah sulit bagi wanita untuk memperoleh gaji yang sama dengan yang diperoleh kaum adam bahkan setelah perang dunia II alias abad ke-20. Dalam kehidupan berumah tangga pun, jika wanita berkarier dan rumah tangganya gagal, maka sudah dipastikan penyebabnya adalah wanita tersebut. Wanita disalahkan karena dianggap menyalahi kodratnya sebagai ibu rumah tangga alias tinggal di dapur, mengurus anak dan suami.

Aku dilahirkan pada tahun 1978. Pada saat itu aku pun dididik oleh orang tuaku dan lingkunganku bahwa wanita akhirnya akan masuk dapur. Kita seperti dicecoki dengan perbedaan pria dan wanita yang begitu mencolok. Wanita digambarkan begitu lemah dan hanya bisa menggunakan air matanya untuk memperoleh belas kasih pria.

Waktu aku kecil, aku sering bertanya-tanya dalam hati, apakah memang wanita tidak bisa melakukan apa yang pria bisa ? Tahun bergulir, ternyata pertanyaanku adalah pertanyaan semiliar wanita lainnya. Wanita-wanita memperjuangkan haknya dan membuktikannya kini bahwa mereka memang bisa.

Pendapatku mengenai kesetaraan adalah bahwa wanita dan pria diciptakan Tuhan dengan sangat unik dan mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Mereka saling melengkapi dan hal itulah yang menjadikan mereka partner yang sepadan. Harus diakui, dilihat dari sisi religius, alkitab mengatakan bahwa wanita tercipta dari tulang rusuk pria. Dan alkitab juga mengatakan bahwa pria adalah kepala rumah tangga. Bagaimanapun juga wanita harus menghormati pria sebagai kepala. Menurutku, wanita yang baik adalah wanita yang menghargai prianya sebagai tuannya. Sedangkan pria yang baik adalah pria yang mengasihi wanitanya seperti dirinya sendiri.

Terlepas dari itu, sekali lagi saya mau berterima kasih kepada banyak wanita yang telah memperjuangkan hak-hak wanita sehingga banyak wanita sekarang dapat mengenyam pendidikan tinggi (tidak kalah dengan pria), berkarier sampai puncak (tidak kalah dengan pria) dan diakuinya kedudukan wanita sebagai partner sejajar dan seimbang bagi pria dalam berumah tangga. Saya juga dalam kesempatan ini berterima kasih kepada orang tuaku yang sudah memberikan banyak pengertian, pengetahuan dan dukungannya sehingga saya bisa menjadi wanita yang mandiri, modern dan terbuka.

Terima kasih juga kepada kemajuan teknologi yang memungkinkan kita bisa mengakses ke mana pun tanpa batas area, dapat berkenalan dengan semua orang dari penjuru dunia, memperoleh informasi berlimpah dan keterbukaan dalam hal apa pun, termasuk diskusi mengenai hal-hal yang dianggap tabu. Akhirnya, saya bersyukur saya lahir pada zaman ini. Terima kasih Tuhan.

This entry was posted in My Journey & Opini and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Notify me of followup comments via e-mail. You can also subscribe without commenting.