Jenis Alat Psikotest yang Digunakan untuk Tes Masuk Kerja




psikolog test 2 1.Tes Intelektual, terdiri dari :
- CFIT (Culture Fair Intelegence Test) = untuk mengungkap kemampuan mental umum
- TIU (Tes Intelegensi Umum) = untuk mengungkap kemampuan mental umum
- TKD (Tes Kemampuan Dasar) = untuk mengukur kemampuan dasar individu
- AA (Army Alpha) = untuk mengetahui daya tangkap / daya konsentrasi orang
- ADKUDAG (Administrasi dan Keuangan) = untuk mengetahui kemampuan administrasi dan keuangan
- IST (Tes inteligensi) yang terdiri dari 9 subtes didasarkan pada
anggapan bahwa strutktur inteligensi tertentu cocok dengan pekerjaan
atau profesi tertentu.

2.Tes Kepribadian

- EPPS (Edwards Personal Preference Schedule) = untuk mengukur
kepribadian orang dilihat dari kebutuhan-kebutuhan yang mendorongnya (16 faktor)
- DAM&BAUM = Draw A Man Tes (Tes Gambar Orang) ; untuk
mengetahui tanggung jawab, kepercayaan diri, kestabilan dan ketahanan kerja
- WARTEGG = untuk mengetahui emosi, imajinasi, intelektual dan aktifitas subjek
- Tes Pauli = untuk mengukur sikap kerja dan prestasi kerja (daya
tahan, keuletan, sikap terhadap tekanan, daya penyesuaian, ketekunan, konsistensi, kendali diri)
- KRAEPLIEN = untuk mengungkap ketelitian,kecepatan, kestabilan dan
ketahanan kerja
- RM (The Rothwell Miller) = untuk mengetahui minat seseorang terhadap jenis pekerjaan
- PAPI Kostick = untuk menjabarkan kepribadian dalam 20 aspek yang
masing-masing mewakili need atau role tertentu, tinggi rendahnya need
atau role tertentu mempunyai arti yang spesifik. Konfigurasi yang
diperoleh adalah gambaran dari pilihan testee yang bermuatan need atau role; dan dibandingkan dengan need atau role lain dalam keseluruhan sistem kepribadian berdasarkan persepsi testee atas dirinya sendiri.

*. Wartegg Test

Pernahkah anda ikut psikotest dan disuruh menggambar atau melengkapi gambar delapan kotak diatas (Wartegg Test)

Pada saat Anda menjalankan Wartegg Test, Anda akan diberi selembar kertas yg berisi 8 kotak yg ada stimulus2 nya, kemudian Anda akan diberikan perintah untuk melengkapi dari gambar yg ada di kotak tersebut.
Isi dari masing2 gambar :
gbr 1. berupa titik ditengah kotak : ini menyangkut hal2 yg
berhubungan dengan penyesuaian diri yaitu bagaimana seseorang
menempatkan diri dlm lingkungan
gbr 2. berupa ~ tp berada di kotak sebelah kiri : menunjukkan
fleksibilitas perasaan.
gbr 3. berupa 3 garis horisontal dr pendek, sedang tinggi sejajar:
mengukur hasrat untuk maju/ ambisi
gbr 4. berupa kotak kecil di sebelah kanan : mengukur bagaimana
seseorang mengatasi kesulitan
gbr 5. seperti huruf T tp miring (susah gambarin nya) : mengukur
bagaimana cara bertindak.
gbr 6. berupa garis horisontal ; vertikal : mengukur cara berpikir /
analisa; sintesa
gbr 7. berupa titik2 : menyangkut kehidupan dan perasaan ( apakah
sudah stabil, kekanakan)
gbr 8. berupa lengkungan : mengenai kehidupan sosial/ hubungan sosial

Jika anda pernah bertanya-tanya apa fungsi test melengkapi gambar diatas dan apakah test diatas sebenarnya adalah untuk mencari tahu siapa diantara peserta yang paling pintar menggambar.

psikolog testTernyata test diatas bukan untuk mengetahui kemampuan menggambar
Anda melainkan hal tersebut merupakan salah satu cara dari beberapa
cara yang lain yang digunakan oleh psikolog untuk mengetahui
kepribadian Anda dari cara Anda menggambar.

Test Wartegg mengharuskan peserta untuk melengkapi gambar yang
terdiri dari 8 gambar, 4 diantaranya berupa garis lurus (Gambar III,
IV, V, dan VI) dan empat lainnya berupa garis lengkung (Gambar I, II,
VII, VIII). Menurut informasi dari buku, internet menyatakan bahwa garis melengkung sebaiknya diisi dengan mahkluk hidup dan garis lurus diisi dengan benda mati. Apakah ini benar ?

Selain itu menurut informasi yang didapat juga menyatakan, dari cara Anda menggambar akan terlihat apakah Anda seorang yang keras kepala, tidak terorganisir,dll. Semuanya terlihat dari kebersihan, kerapian, tekanan pensil dan sebagainya. Test ini juga mampu untuk mengungkapkan kemampuan IQ anda, dari hasil apa yang Anda gambar.

* BAUM Test

Draw A Man Tes (Tes Gambar Orang) ; untuk mengetahui tanggung jawab, kepercayaan diri, kestabilan dan ketahanan kerja.

BAUM Test termasuk dlm test Grafis. Mungkin Anda pernah menjalani test dimana Anda diberi kertas kosong dan diminta untuk menggambar pohon, dan dikertas lainnya diminta menggambar orang.

Yang dinilai bagus atau tidaknya gambar tersebut, melainkan besar-kecil gambar, tarikan garis (tegas atau tidak atau patah2), letak gambar (kanan-kiri, atas-bawah, atau center). Biasanya Anda juga diminta untuk memberikan keterangan pohon apa yang digambar, kalau orang ( dia lagi melakukan apa dan jenis kelaminnya apa). Tiap2 gambar ada artinya.

* Tes KRAEPPELIN dan PAULI
tdk ada perbedaan… semua berisikan kertas dan angka yg membedakan hanya cara dan jumlah isinya…..dan KRAEPPELIN memiliki jumlah deret angka yg lbh banyak, biasanya sang psikolog hanya menginstruksikan “pindah” pada waktu tertentu dan berbeda2 utk melihat daya tahan otak dan konsistensi. ….

Pada saat Anda menjalankan test ini pernahkah Anda bertanya-tanya bagaimana para psikolog itu memeriksa hasil test ? Karena tulisan yang dibuat mungkin kecil, berantakan, dan banyak. Ternyata dari informasi yang didapat dari buku, internet dan orang-orang psikolog bahwa mereka mempunyai teknik tertentu dalam memeriksa hasil test ini, yaitu dengan mengabaikan kolom2 tertentu dan mengecek kolom2 tertentu juga.

Namun demikian, tes psikolog hanyalah merupakan suatu alat buatan
manusia untuk mengetahui kepribadian seseorang secara umum saja. (Menurut saya taksiran).
Kesimpulan yang dihasilkannya boleh jadi berbeda dengan kepribadian
yang sesungguhnya. Hal ini diakui oleh para psikolog sendiri bahwa
tidak ada satu pun tes di dunia ini yang benar-benar akurat dapat
menilai kemampuan dan kepribadian seseorang.

=============
Psychology Today

Edwards Personal Preference Schedule (EPPS) is used to measures the rating of individuals in fifteen normal needs or motives. On the EPPS there are nine statements used for each scale. Social Desirability ratings have been done for each item, and the pairing of items attempts to match items of approximately equal social desirability. The EPPS has been designed primarily for personal counselling, but has found its way into recruitment as well. The EPPS is very suitable for these purposes.

Draw-A-Person Test (DAP, DAP test, or Goodenough-Harris Draw-A-Person Test) is used to evaluate children and adolescents for a variety of purposes. To evaluate intelligence, the test administrator uses the Draw-a-Person. The purpose of the test is to assist professionals in inferring children’s cognitive developmental levels with little or no influence of other factors such as language barriers or special needs.

PAPI (Personality and Preference Inventory) is a personality measure which was specifically designed to elicit behaviours and preferences which are appropriate to the workplace. It is an applied, workplace instrument and this is reflected by the conceptual model of personality it seeks to measure.

The PAPI Role scales measure the individual’s perception of himself or herself in the work environment and look at areas such as integrative planning and attention to detail. The Need scales probe the deeper inherent tendencies of an individual’s behaviour such as the need to belong to groups and finish a task.

PAPI is available in two different formats: PAPI-I and PAPI-N. PAPI-I is recognisable from the way that it presents questions in a forced-choice format. PAPI-I is thus suitable for assessment situations which do not require comparative judgements and where individuals are more likely to appreciate the benefit of presenting themselves honestly, such as Career development, Personal development, Coaching and mentoring, Counselling, Work problem diagnosis, Team building, Identifying training needs.
PAPI-N is recognisable from the way it presents questions as single statements, each accompanied by a rating scale. Normative questionnaires are suitable for assessment situations where there is a need to make judgements about a person in order to compare them with others. PAPI-N is thus suitable for assessment situations which require comparative judgements to be made about people and where, as a consequence, individuals might see the benefit of presenting themselves in the best possible light, such as selection between candidates for a post, matching a candidate against a PAPI ‘template’ for a specific job

Source :

http://en.wikipedia.org/wiki/Edwards_Personal_Preference_Schedule

http://en.wikipedia.org/wiki/Draw-A-Person_Test

http://en.wikipedia.org/wiki/Personality_and_Preference_Inventory

Artikel Lain :
Personality Test

This entry was posted in Work, Job and Career and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

151 Responses to Jenis Alat Psikotest yang Digunakan untuk Tes Masuk Kerja

  1. dean says:

    ada-ada saja….

  2. bejo says:

    saya kok skeptis dengan psikologi ya…jiwa itu apa?apa relasi antara jiwa dan tubuh?manusia itu apa? tiap dekade teori psikologi gonta-ganti. saya jamin freud-boss-victor f-jung tak akan sepakat untuk proposisi dasar diatas…manusia yang tak tau siapa dirinya mencari tau dengan akalnya yang tak tau siapa dia(kontradiksi). kenapa kita pertaruhkan hidup kita pada psikologi…Interpretasi setiap aliran psikologi akan saling berbeda bahkan bertentangan.

  3. Ogura says:

    @Peace Maker : dalam test Psikologi, there are no right or wromg answer. jadi jangan takut untuk gagal dalam test, test ini untuk mengukur inteligensi kamu.. bukan melihat apakah kamu sudah pantas untuk lulus atau blom dalam suatu test. yang pastii, kerjain aja sebisa mungkin.

  4. kincun says:

    ayu,risma kncn ma aq aj yuk..

  5. nasrul says:

    indonesia .. indonesia ..
    sesama psikolog koq berantem …
    kalian cuma ngomong di sini aja ..
    di tindak donk .. jgn cuma ngomong ganti pengurus HIMPSI..
    kalian belum tentu aktif di organisasi tsb ..

  6. rina says:

    well,,,heboh banget yah pada ngomongin Psikotest…
    Klo saran saya, sebaiknya ilmu psikologi mengembangkan ilmunya untuk bisa menghasilkan penelitian atas kepribadian manusia agar hasilnya bisa lebih reliable…
    Dan menurut saya, hasil psikotest kita hari ini dengan satu tahun mendatang pun pasti akan berbeda, karena kepribadian manusia pun akan berubah seiring dengan terjadinya berbagai hal dalam hidupnya….
    UNTUK YANG PADA MARAH-MARAH KARENA MERASA PROFESINYA DIRUGIKAN….saya cuma mau tanya??kalo memang hal ini melanggar kode etik, kenapa di majalah-majalah wanita terkenal banyak sekali tes-tes psikologi, dan sangat jelas diberitahukan makna dari setiap jawaban..??Berarti mereka sangat-sangat melanggar kode etik dong?? heheheheh…

  7. fiza says:

    numpang komen yah…
    saya salah 1 mhsiswa psikologi, kalo saya melihat tulisan dari melisa ini, saya rasa gak ada yang salah yah karena yang dia tulis di sini hanya berupa informasi tentang alat tes dan semua itu bisa kita dapat lewat buku2 psikologi yang biasa dijual di toko buku. so, siapapun bisa saja membacanya lewat buku,

    apakah yang baca bisa dikatakan melanggar kode etik ???

    dan yang saya tau, melisa dikatakan melanggar kode etik itu ketika dia adalah seorang psikolog atau ilmuwan psikologi yang membocorkan alat tes kepada pihak lain.

    jika dia bukan dari psikologi maka, tidak bisa dikatakan melanggar kode etik psikologi tetapi kode etik profesinyalah yg dia langgar, jika betul dia melakukn hal itu. tapi sya rasa tulisan ini gak ada masalah..

    saran saja, jangan terlalu cepat melakukan judge trhadap orang lain…

    lebih bik damailah, supaya hidup ini more beautiful…

  8. No name says:

    To Risma, Ayu, Putri :
    Kalian sebenarnya tahu tidak maksud tulisan ini?
    Saya rasa kalian ini mahasiswa Psikologi yang maaf sudah DO atau bekerja dengan company yang terancam hancur saya rasa…
    Kalian psikolog amatir…

  9. taurus says:

    rekans,
    psikotes hanyalah salah satu alat bantu psikolog untuk dapat mengetahui dinamika kepribadian individu. selain itu, kegunaan psikotes juga tergantung pada ‘tujuan’nya untuk apa. katakan untuk seleksi atau klasifikasi, masing-masing jabatan itu punya deskripsi jabatan masing-masing, bahkan jabatan yang sama, aspek-aspek psikologi yang dibutuhkan bisa saja berbeda untuk perusahaan yang berbeda. … so jangan percaya atau terkecoh dengan bimbingan psikotes dan sebagainya. kerjakan sesuai dengan apa yang ada diri anda. biar kalau dapat pekerjaan, sesuai dengan potensi kita. kerja tenang, perusahaan senang… dan akhirnya, karir cepet nanjak.
    yang jelas, psikologi tidak hanya sekedar psikotes saja.

  10. Kisa says:

    Makasih banget ya.. tadinya gw masih belom mudeng maksud dari psiko test itu apa. Informasinya berguna sekali bagi orang awam…. Tetaplah menjadi diri sendiri.

  11. cznarockstar says:

    Melihat banyaknya komentar di sini, sebagai mahasiswa Psikologi rasanya tergelitik untuk memberikan komentar. :P hal-hal yang diatas memang benar, tapi ada juga yang memang belum tepat tapi saran saya, untuk melakukan tes psikologi kunci nya ialah dengan tidak mengikuti nasihat buku-buku atau informasi yang simpang siur, tapi mengerjakan dengan kemampuan sendiri akan lebih efektif karena kepribadian yang nantinya akan didiagnosa dapat terlihat apakah itu genuine atau palsu, terlepas dari itu ilmu psikologi memang suatu ilmu yang dapat dipelajari secara terbuka, kita akan dapat mempelajarinya hanya dengan membaca buku2 teori, tapi butuh keterampilan2 khusus untuk menjadi seorang psikolog sejati, buku2 tidak ada artinya bila kita tidak memiliki sense kemanusiaan dan kode etik tentunya. Mudah2an informasi dari saya dapat bermanfaat.

  12. Tantri says:

    apakah yang menulis itu orang yang benar – benar memiliki profesi di bidang psikologi atau hanya orang awam yang yang banyak membaca tentang mengenai alat tes psikologi secara umum aja, klo emang dia orang yang bekerja dibidang psikologi dia menyalahi kode etik, dunia psikologi tapi kalo dia orang awam yang tidak tau berarti dia so you know and kalo psikolog menulis tentang alat tes pasti ada batas – batas tertentu. dari jelas tulisan itu emang menyesatkan jadi jangan diikutin.

  13. ditto says:

    Orang awam said : ada yang nyerobot Jobdesk nya HRD team,recruitment team,etc neh… tuch khan rejeki orang.. aq sedih…

  14. Golput says:

    Koq komennya jd kluar batasan gini?

    Apapun alasan yg dikeluarkan pihak praktisi psikolog atau awam, alangkah bijaknya jika Melisa memperhatikan masukan2 yg masuk.

    Saya juga belajar Ilmu psikologi. kekhawatiran yg keluar dr pihak yg mempermasalahkan tulisan ini (selain melanggar kode etik) mungkin mengkhawatirkan keberadaan jangka panjang seseorang pada posisi kerja yg didapat dr “memodifikasi” jawaban psikotes agar cocok u/ posisi tsb.
    Kalo toh, sampe ada yg bisa ngpas-pasin jawaban ssuai jabatan yg dipinginin, sedangkan kemampuan sbenarnya tidak memungkinkan, maka bakal ketauan di level wawancara atau praktek kerja. dan kalopun masih lolos. Kualitas kerja kalian nggak akan maksimal. Bisa-bisa ngerasa tertekan, penat, dan pingin keluar dari kerjaanmu. Na-lo.. kasus kayak gini baru krasa pada tataran waktu yg cukup lama.
    Bayangin aja, kalo udah kerja 5 tahun trus bner2 gak kuat n Out/ malah2 dikeluarin, Sapa yg susah buat cari kerja lg?

    Psikologi hadir bukan untuk mempersulit anda. Tapi memudahkan anda untuk mendapatkan tempat paling sesuai dengan minat, bakat, or kemampuan anda..

    Saranku sih.. daripada nggugel ksana kmari, mending dateng aja ke pusat2 layanan psikologi, trus minta saran tetang posisi pekerjaan yang sesuai dg kapabilitas anda. Pasti lebih dijamin bisa lolos seleksi pekerjaan yg paling cocok untuk anda..

    OK smuanya?
    Salam damai, ya! Dan percaya bahwa kita adalah spesial dengan apa yg kita miliki. Jangan iri dengan apa yg bisa didapat orang lain. Kita bisa lebih sukses dari mereka, hanya saja kita harus tahu kemana harus melihat.

  15. akuaku says:

    buat teman2 yang ada sudah coment disini…
    biar comentnya lebih bermakna dan bisa memahami perasaan masing2 pihak (bauk yang tersakiti maupun tidak)…
    ada baiknya teman teman sekalian belajar ilmu psikologi yang sebenarnya dan di tempat yang benar.

    biar kita tau bagaimana prosesnya sampai suatu alat tes bisa digunakan…

  16. Remo says:

    Proses pembuatan alat ukur tidak semudah yang kalian pikir teman-teman. Membutuhkan proses pengujian statistik terhadap validitas, reliabilitas, serta analisis item. Belum lagi memastikan apakah norma-norma dalam penyusunan alat ukur tersebut sudah benar-benar representatif untuk semua kalangan. Prosesnya sangat-sangat kompleks. Landasan teori yang membangunnya pun harus benar-benar jelas dan kuat.

    Jangan samakan dengan kuesioner-kuesioner yang ada di majalah. Itu hanya dibuat sebagai daya tarik saja, konstruksinya sangat-sangat ilmiah dan hasilnya tidak bisa dipercaya.

    Lagi pula, hal yang mendasari mengapa alat ukur di atas tidak boleh dipublikasikan secara luas karena hasil tesnya nanti tidak mampu lagi menggambarkan kepribadian pengguna tes. Sebab pada dasarnya dalam tes-tes di atas tidak ada jawaban yang salah. Ketika kita kita menjawab pertanyaan tidak sesuai dengan diri kita yang sesungguhnya maka fungsi alat ukur itu tidak ada lagi. Tetapi silahkan saja, karena pada dasarnya setiap alat tes tersebut mampu mendeteksi seseorang yang melakukan faking

  17. Remo says:

    maaf maksudnya tulisan di majalah itu sangat tidak ilmiah

    nb : faking = berpura pura

  18. ayah says:

    sebenarnya semua sudah ada lajurnya. klo semua mau mengerti dan tidak saling ego, info diatas bisa dijadikan sebagai pembuka wawasan bagi yang awam terhadap psikologi. nyatanya banyak buku-buku tentang tes psikologi, itu aja yg seharusnya dilarang klo meruntut tentang kode etik psikologi… iya ga gan?

  19. yuuukkkk says:

    psikolog jg manusia koq, bukan Tuhan, yg pke ilmu pasti..
    hehehehe….

    damai ah,

    udh ada jalannya masing”, skedar info ga masalah.. yg penting tidak disalahgunakan, toh memang manusia kan rasa ingin tahu nya tinggi :D

  20. ALGA says:

    Saya juga salah satu orang yg berasal dari bidang psikologi. Terus terang, banyak sekali ilmu yg saya peroleh ttg psikologi justru ketika saya sudah terjun langsung ke lapangan, termasuk ttg alat2 test (tau lengkap ketika kerja di BIRO PSIKOLOGI), krn di kuliah tdk bnyak alat test yg diajarkan. Bbrp komentar yg ad mngkin tdk perlu dilihat dr bbrpa sudut pandang. Kami, para psikolog, memang “dianjurkan” utk tdk memberikan hal2 yg shrusnya tdk “dibocorkan”. Namun, di jaman yg srba canggih bgini…alat test apapun, trnyata mudah skli didapatkan trutama lewat internet. Tdk perlu jauh2…diantra kita, mgkin ad yg prnah “membantu” org2 “dekat” kita utk “lolos” mnghadapi test psikologi. Namun prlu dsadari jga…alat test yg bgtu banyak, satu sama lain sling melengkapi. dan brdsarkan pnglaman sya sbg tester, sbrapa bnyaknya latihan…(memanipulasi), sbnrnya kecendrungan seseorang tetap akan dpat “dinilai”. lagian, utk alat test psikologi kan gk brdiri sndiri,..if masuk krja mash ad interview, dll. Tdk prlu org awan psikologi, kadg sya jga prnah koq,…gak lolos psikotest di suatu prushaan. pdhal alat test yg digunakan sma persis dg alat test yg sya gunakan klo lgi rekrut krywan. So…???apa msih prlu kita “brdebat” lagi???

  21. bunga says:

    duh pinternya nih orang.. kuliah mana sih? gag pernah diajarin kode etik apa? kasian bgt indonesia pny generasi kayak gini. dengerin donk kalo dosen ngomong, bisa diajarin gg sih lo!

  22. freshtea says:

    psikolog jg jgn merasa orang yg paling ahli dalam menilai kepribadian, krn kepribadian tdk mudah utk diketahui, yg tau diri kita hanyalah Tuhan dan diri kita sendiri, jadi psikolog jgn hanya tukang ngetes IQ & kepribadian yg paling penting perannya dalam psikoterapi.Banyak profesi lain yg jg mampu menilai kepribadian secara tidak langsung. So dont feel so superior.Ok!

  23. nelwandi says:

    mba melisa, commentnya udah panjang. tapi mudah-mudahan mba melisa baca tulisan saya.

    coba cek:
    http://en.wikipedia.org/wiki/Personality_and_Preference_Inventory

    http://en.wikipedia.org/wiki/Edwards_Personal_Preference_Schedule

    cek bagian copyright masing-masing artikel.

    setahu saya semua alat tes yang mba posting memiliki hak cipta,
    tinggal tanya mbah google aja.
    hormatilah HAK CIPTA orang lain.

  24. sammy says:

    kode etik psikologi harusnya diubah, sekarang semua orang bisa mempelajari apa saja di internet..

  25. Bambang Iman Bakti says:

    Ya seru ya perdebatannya.Sebelumnya kenalkan dulu, aku seorang psikolog alumni UGM thn 73, udah pensiun dari RSJ Pontianak, dan kebetulan aku juga Ketua Majelis Wilayah Himpsi Kalbar…tertarik untuk mencoba memberi pandangan ttg kasus ini. Kalau dicari benang merahnya ttg kebocoran alat test ini, mungkin ceritanya nggak habis2, ttp dari pengalaman praktek ngetest calon pegawai, diantaranya banyak juga yg profesinya psikolog, dapat dikatakan psikotest ini aku yakin sisa satu2nya alat pemeriksa yg terbilang lebih obyektif dibandingkan alat test lainnya, kalaulah hasil psikotest ini dipakai oleh si pengambil keputusan. Jadi saya mrs bangga dng profesi kami, krn nyatanya secara statistik, jarang sekali ada psikolog yang sampai jadi headline krn malpraktek atau personalitynya mengarah ke kriminalitas sampai tingkat Nasional, kalaulah dibandingkan profesi lainnya…Ada hal yang perlu kami sampaikan terutama masyarakat yang non psikologis. :1. Alat2 Psikodiagnostk/Psikometri/Psikotest ini proses membuatnya memerlukan biaya yang sangat besar, perlu dibuktikan validitasnya serta reliabilitasnya sampai tingkat Nasional, dan untuk membuat Norma Test yang sesuai dengan tingkatan jenis kelamin, pekerjaan, usia dll, harus diujicobakan keseluruh daerah di Indonesia.
    2. Pemerintah mensubsidi research dan pengembangan alat test Psikologi melewati PTN/PTS yang terakreditasi di mana itu semuanya uang dari Rakyat, karena biaya pembuatan satu alat test adalah bisa Milyard.
    3. Bila Fakultas membeli Alat test Psikologi dari Luar, alat tsb hrs diadaptasikan dulu apkh cocok dengan persyaratan, budaya, lingkungan dan banyak sekali faktor2 extraneus variable yang dikondisikan spy bisa dipakai di sini (Ya perlu juga biaya yg banyak), makanya tempat penjualan alat2 Psikotest hanyalah Di PTN/PTS serta Biro Konsultasi Psikologis yang terakreditasi. Seorang Psikolog Profesi sekalipun belum tentu bisa membeli alat test, kalaulah dia belum punya Kartu Anggauta Psikologi dan Sertifikasi Psikolog.
    4. Terlepas dari masalah internal di Himpsi atau profesi Psikologi, saya pribadi sebetulnya kasihan kpd teman2 yg krn ingin tahunya, dan ambisi untuk lulus sampai membeli Buku Mensiasati Psikotest dlsbnya, krn Psikotest tsb nggak semudah persangkaan orang awam untuk mensiasati…..dapat saya katakan Psikotest adalah alat yang tidak bisa disiasati/diakalin. Ada banyak type Psikotest yg cara menilainya justeru dinilai minus, kmdn hampir 80 % jawaban tidak ada yg benar dan salah, hanya kami yg bisa menginterpretasikan.
    5. Untuk mempertahankan tingkat validitas dan taraf signifikansi dari alat Psikotest, ada system saling recheck, misalkan test Inteligensi dpt direcheck oleh test2 proyeksi ataupun test prestasi, test bakat dan sebaliknya. Yang terjadi kita akan membuat tanda besar kalaulah ada seseorang yang sangat bagus IQnya ttp setelah kita recheck dng test kepribadiannya ternyata adlh tidak mungkin pribadi tsb ber IQ tinggi, dan kalaulah terjadi kasus demikian semua Psikolog akan berpedoman pada interpretasi test kepribadiannya, yang nggak mungkin bisa diakali, bahkan oleh seorang Psikolog sekalipun. Tidak jarang seseorang yang sangat cerdas tidak lolos psikotest, karena aspek kepribadiannya terlampau banyak hambatannya.

    Oleh krn itu, kami sarankan janganlah mempelajari Psikotest, krn Psikotest percuma saja dipelajari, akan sedemikian mudahnya di mata Psikolog yg ahli nampak kelemahan2nya. Jadi singkatnya semua Psikolog lbh menitik beratkan aspek2 mentalitas individu, dan kita anggap semua orang yang bisa lulus SMA pastilah IQnya rata2, ttp faktor kedewasaan pribadinya yang nanti menentukan lolos atau tidaknya Psikotest bukanlah seseorang yang bermental mencari fasilitas kemudahan yang dicapai dengan segala cara.
    7. Kalaulah ada terbersit, kenapa kok Pegawai Negeri, Militer dll, yang udah dapat Psikotest mentalnya masih kurang, perlu kita jelaskan bahwa kami menerima order dari Instansi dll, setelah laporan kita kirimkan yang menentukan bukan kami lagi…..Ya sering yang jelas2 tidak kita lulusin malah diterima dsb, sekali lagi penentunya adalah ditangan si pembuat order.

    Salam……Mudah2an bisa dipahami, bukannya Profesi kami tidak bisa membuat alat test sendiri, ttp untuk membuat alat test yang baku dan berstandard Nasional, biayanya sangat mahal, dan subsidi dari Pemerintahpun sangat terbatas…Mohon toleransi kenapa alat test Psikologi itu masih dari zaman kuda gigit besi tetap sama, krn Psikotest bukanlah soal2 ujian semester/nasional yang sekali pakai….yang kuncinya udah banyak bocor….yg mirip dengan itu, hanyalah test inteligensi, ttp test bakat, test prestasi, test kepribadian, test klinis hampir semuanya tidak bisa diakalin, sedangkan yang merupakan materi buku pedoman psikotest tsb mengajari anda ttg test Inteligensi….
    Mudah2an ada jiwa besar dari temen2 semuanya.

  26. lena says:

    untuk teman2 dari psikologi, santai ae.aku sudah baca keterangan yang di atas, cuman garis besarnya ae.toh dia ga bahas interpretasinya…

    hal no 2, untuk temen2 yang lagi cari kerja, psikotest memang penting, tapi yang jadi titik tolak orang di terima/tidak dlm suatu perusahaan, bukan hanya psikotestnya.tapi banyak hal.seperti budaya perusahaan dll. psikotest cuman di pake untuk melihat kepribadian orang,cocok tidak sama budaya perusahaan. kalo tidak cocok, juga percuma. karena biasanya perusahaan mencari orang yang bisa mengikuti budaya perusahaan ,sehingga di harapkan kerjanya bisa lama. jadi ga bolak balik cari karyawan baru..gituu..salam.

  27. pipiet says:

    sebenarnya, sekalipun teman2 selain psikolog mpelajari (hapal banget) dg kunci jawaban psikotes, tetep ajah ga bisa mengubah hasil psikotesnya. karna ada beberapa hal, yang bahkan saya sebagai psikolog ga bisa mengubah hasil psikotes saya (padahal udah belajar interpretrasinya). jadi saran saya…tetap yakin pada kemampuan diri kalian, usahakan fokus n fit saat harus psikotes. caio…

  28. burkass says:

    Aku copy ya artikelnya ntar tak kasi link originalnya. Kalau mbak melisalin keberatan silahkan dicomment dan akan saya buat private. Thanks

  29. Kopi says:

    Psikotes 2 jam bisa menilai pribadi berumur tahunan?

  30. keemool says:

    mana nih si ayu ma si risma….. dasar yah tipe2 org orde lama…..ilmu pengetahuan itu harus dibagi. ini ga ada hubungannya ama kode etik. evaluasi diri deh. jgn ngaku2 psikolog klo masalah ginian aja diributin. melisa gk melakukan kesalahan apapun, apa yg dilakukannya masih wajar2 aja. jd jangan mengada-ngada deh nuduh2 org seenaknya.

  31. trix says:

    tuuuuulllll…
    psikolog tuh sotoy…seneng-nya ngotak2in orang berdasarkan buku kuningnya yg udah outdated…
    emangnya kita otak2 ^^
    manusia tuh kompleks…bisa berubah tergantung stimulus psikis tertentu..
    maju terus…jgn pikirin apa kata hasil psikotes luw…pekerjaan apa pun klo gak dicoba gak bakal tau hasilnya… ^^

  32. lena says:

    sebenernya,saat penerimaan, kita, bagian penerimaan karyawan,tidak hanya melihat psikotestnya saja.tapi juga ada interview…juga ada observasi…

    orang selalu takut pada psikotest.padahal psikotest itu hanya melihat orang itu,apa menguasai bidang yang di lamar?? apa sesuai dengan culture budaya perusahaan?

    jadi,saranku,kalaupun tidak di terima,jangan lantas pengen belajar psikotest.masalahnya bukan pada psikotest.tapi mungkin saudara tidak akan kuat menghadapi budaya perusahaan tersebut….yang artinya,kalaupun ketrima kerja ( karena sudah belajar psikotestnya), saudara tidak akan berada lama di perusahaan itu.karena saudara tidak nyaman di perusahaan itu,karena tidak sesuai dengan culturenya…

    tolong jangan bertengkar di forum ini.ga ada gunanya. perbedaan pendapat selalu ada.tapi gimana cara kita mengatasinya itu yang penting to??belajarlah dewasa.jangan bertengkar terus… ingat dewasa bukan artinya usianya sudah banyak.dewasa artinya berhikmat. bisa mengatasi berbagai masalah dengan KEPALA DINGIN. BUKAN DENGAN HATI PANAS

  33. meeyra says:

    melissa,,,,,

    thanks ya dah mo share ilmu……..

    sbnrnya ga usah takut dgn kebocoran soal,,,ini kan sekedar just to know..yang baca (misalnya saya) juga belum
    tentu bisa aplikasiinnya ketika saya mengisi tes padahal saya sudah tau……..

    yang ahli tes yah emang psikolog,,,jadi para psikolog jangan takut dirugikan oleh tulisan ini coz yang paling mengertikan kalian semua,kalian tau teori dan prakteknya dengan pas…….dan kami pembaca hanya sekedar tau sajaa….

    ok sist……

    buat melissa thanks ya atas informasinya,,,,saya yakin ini akan bermanfaat buat semua yang baca….jangan takut untuk menulis….

    jiaaayouuuuuu cece……..

  34. uzumunear says:

    kkaka
    kok pada berantem.
    psikotes yang diterangin kak melisa kan cuman yg berupa angket dimana kbanyakan psikotes kyak gt.brarti mutunya rendah.ga ngeliatin kpribadian sbgaimana mstnya.
    wajar aja banyak yang komplen sampe jebol2 kode etik.
    berdoa dan berikhtiar.
    yang haram cuma daging babo aja,minyak babi nya engga kok.
    gakgak

  35. Bumi says:

    hahahaa….
    saya terhar melihat perdebatan yang absurd dan gak jelas mana pangkal dan ujungnya. Setahu saya, cara PEMANUSIAAN adalah dengan berfikir positif, tapi.. ternyata masih banyak yang “lali jiwo” dan bahkan masih dikendalikan emosional. Bagi mereka yang mengaku profesi sbg Psikolog, kenapa hars pesimis, khawatir dan bahkan ketakutan kalau kode etik mereka dilanggar. kenapa kalian berfikir kalau ruang ilmu kalian gak boleh diakses sama orang lain. itu hak asasi Bung/Mbak. Kenapa kalian mengkotakkan diri kalian dan bahkan mengeksklsifkan diri kalian bahwa psikologi hanyalah ilmu bagi kalian. Bahkan, syaa tersenyum kasian saat membaca comentar diatas yang nyinggung :”ORANG MALAYSIA”.. itu fikiran SUBJEKTIF…dan bukanlah disarankan seorang PSIKOLOG punya pikiran kaya Gitu. MELISA itu hanya sebagai informan disini. Bukan pembajak. Yang kalian takutkan itu apa? ternyata pola pikir (mengaku dirinya) PSIKOLOG yang berkedok BERDASAR KODE ETIK masih dikulum pikiran konvensional, kolot, negatif dan subjektif. Jangan pernah memonopoli ilmu BUNG/MBAK !!! Psikologi itu untuk MEMANUSIAKAN MANUSIA. HRD itu cuma lapangan kerja. bukan rumah KEPEMILIKAN kalian. bekerjalah sebagai orang yang memberi SOLUSI bukan malah mengais PAMRIH.

  36. NEED IMMEDIATELY and A.S.A.P says:

    saya sedang mencari buku/soal/alat Psikotest keluaran Universitas Indonesia (UI)/Universitas Lain untuk ngebantu adik saya Masuk kerja.
    Yang saya butuhkan yang selengkap-lengkapnya ya.(Baik yang test Hitung2an,menggambar,test kepribadian dll)
    kalo ada yang punya,silahkan hub saya di mr.silent_knight@yahoo.co.id

  37. angga wirautama says:

    ngedabruzzz smua..wong cuman nulis pendapat aj,,jwabnny sok pinter smua,..itukan blognya melissa sndiri.sk2 dia dunk nulisny ..

  38. michael says:

    wah gara gara lagi brows untuk salah satu alat tes intelegensi malah jadi nemu ginian. Saya baru tau klo ada perdebatan soal ini dan saya punya beberapa pendapat :
    1. TS tidak bisa dikatakan melanggar kode etik. Sekilas memang terlihat seperti itu tetapi TS toh tidak membocorkan kunci jawaban setiap alat tes (serta interpretasinya), bahkan klo kita rajin browsing ke situs situs tertentu, ada yang lebih lengkap lagi informasinya
    2. Psikotes itu tujuan awalnya adalah menggali potensi dari seseorang (entah itu bakat atau minat, contohnya kayak penjurusan waktu SMU) jadi kalau ada seseorang yang berulang kali gagal di psikotes, mungkin orang tersebut tidak (atau belum) memiliki bakat untuk posisi yang di lamar.
    3. Kalau ada yang bilang psikotes cuma beberapa jam emang bisa tau kepribadian kita seumur hidup ? well sangat ga mungkin ada alat tes yang bisa kayak gitu. Maka dari itu psikotes digunakan untuk menggali sebagian besar (bukan semua) potensi / minat / bakat / kepribadian seseorang untuk dinilai apakah mereka cocok untuk posisi yang mereka inginkan. Contoh : ada seseorang yang senang bergaul, suka bersosialisasi, aktif, senang bertualang tapi melamar untuk posisi back office atau akunting yang penuh dengan rutinitas. Anda ga mau kan kalau bekerja disuatu bidang yang tidak anda minati ? atau yang tidak anda kuasai ? Lagipula hasil dari psikotes itu nanti diperkaya dengan observasi dan interview lanjutan. Jadi jangan terlalu fokus ke psikotesnya guys.
    4. Tips buat psikotes itu dari dulu sama : jangan lupa sarapan dan istirahat ! Kenapa ? ya biar nanti ketika mengerjakan psikotes anda berada dalam keadaan yang fit, bisa berpikir jernih, bisa konsentrasi, sehingga kemampuan anda bisa keluar secara maksimal. Kalau sehari sebelumnya begadang atau paginya ga sarapan, tau sendirilah ya efeknya :)
    Saya ga bermaksud sok bijak atau sok pintar. Background saya juga psikologi dan saya merasa prihatin banyak sekali kasus kebocoran alat tes (baik soalnya maupun jawabannya). Padahal psikotes bukan final decision dalam menentukan apakah anda diterima dalam suatu pekerjaan atau tidak, masih banyak faktor lain. Ini semua murni pendapat saya dan saya terbuka untuk setiap masukan atau kritik atas tulisan saya. Thx

  39. ores says:

    Terlihat perdebatan yang tak ada ujung dan intinya. Prasangka dan subjektifitas dalam komen ini lebih kental…jadi bicara inti masalah bukan utamanya. Jadi, yg dibahas bukan lagi ttg tulisan melisa…..tapi….(silahkan isi sendiri):>

  40. budi says:

    jangan2 ini konspiracy…

    terserah deh yang penting page one meski ga pertamax

    hehehehe….

  41. yuli says:

    hai,

    terlepas dari perdebatan diatas, aku cm mau share aja. aku sdh tes psikotes beberapa minggu yang lalu dan hasilnya sudah keluar.

    Hanya saja, aku bnr2 shock dgn hasilnya yg mana bbrapa memang “gue banget” dan bbrapa tidak. mnurut aku, tes ini hanya mengambil kesimpulan 1 hari ttg kita saja, mungkin salah mungkin benar.
    contohnya jg, pd saat tes menggambar. bagaimana halnya dgn org yg tdk bs mnggambar sama sekali? dikatakan tdk kreatif dan inovatif. saya sangat tdk setuju.

    sy merasa smnjak ada tes ini, sy yg dulunya pribadi yg confidence, ga pnh minder, skrg mnjadi minder dan malu.

    apakah tes ini sebegitu pentingnya pd saat memasuki suatu perusahaan trtentu??

  42. Melisa says:

    @Yuli : menurut saya iya, karena mereka perlu adanya gambaran awal tentang Anda (walapupun masih berupa taksiran)

  43. arif says:

    @melisa : saya salut sama mba melisa untuk thread yang sangat hot ini :D , hehehe…untuk membahas dan sharing pengalaman dan pengetahuannya

    @temen2 psikologi : Saya juga pernah belajar psikologi dan masih belajar psikologi (sekarang masih jadi praktisi di salah satu perusahaan asing), jadi saya tahu perasaannya kalau “ditelanjangi” (analoginya seperti pesulap yang ketahuan :p), tapi memang alat test yang disebut diatas itu sudah “agak tua”, dan memang yang sering dipakai oleh praktisi (baca HR Dept) itu memang alat test yang tersebut diatas. Tapi memang penjelasan ini masih “kulit luar” dan tidak sebanding dengan apa yang sudah kita pelajari. Kalau just share saya kira penjelasan seperti ini masih masuk dalam kategori wajar dan tidak berlebihan, karena boleh percaya boleh tidak, rata-rata karyawan kalau ngobrol pertama kali dengan HR baru pasti mengenai alat test, so cheer up and keep on fire guys.

  44. vic says:

    halah halahhhhhh gitu aja ko repot padahal semuanya itu ada di diri masing masing mba mas jadi tergantung dengan orangnya saja mau di manupulasi atau tidak ga ada yang sesempurna ciptaan allah jika yang 5% berkata keterima bekerja yah itu rejekinya jika tidak yah itu sialnya hehehhehehheh soryy coz ter lalu ramai niee hehheheh

  45. Ishaq says:

    Syukron Infonya ya Mba :)
    wah bisa dipelajari nih
    ^_______________^

  46. Pingback: Jenis Alat Psikotest yang Digunakan untuk Tes Masuk Kerja « Fortuneowner’s Blog

  47. Auzora says:

    setujah sama VIC..

  48. cinta says:

    salut deh buat bllognya, melissa,,buat ayu dan risma santai aja,,nga perlu emosi,,,itu menunjukkan siapa kalian,,,

  49. tha says:

    stres, besok psikotes CPNS Depkeu.

    wish me luck

  50. Lea says:

    Yg nyinggung: ‘org malaysia minta tes wartegg jgn dikasih’ lucu bget!
    Wong tes wartegg jg bukn dr indonesia,dan yg kuliah psikologi dinegara manapun pst mempelajari alat tes ini.termasuk org malaysia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Notify me of followup comments via e-mail. You can also subscribe without commenting.