Transportasi di Indonesia

Garuda Indonesia
hmm…boleh lah Garuda kita satu ini. Tepat waktu dibanding penerbangan Indonesia yang lain, juga pesawatnya lebih bersih, canggih, dan nyaman.
Harganya memang mahal, tapi pelayanannya yang diberikannya juga sebanding.
Kita mendapat makanan berat, ketepatan waktu dan kenyamanan.

Saya pernah menggunakan beberapa penerbangan Indonesia yang lain, tapi tidak senyaman Garuda. Bahkan pada salah satu penerbangan, sang pramugari meminta kita agar berdoa terlebih dahulu untuk masing-masing keselamatan kita. Membuat jantung ini mau melompat. hahahaha…

Busway Jakarta
Busway…..transportasi umum yang diharapkan bisa mengatasi kemacetan Jakarta, kenyataanya setelah 4 tahun dioperasionalkan masih belum bisa memecahkan permasalahan tersebut. Kemacetan masih terjadi bahkan pada saat peak hour dimana jam masuk dan pulang kantor, didominasi dengan kehadiran sebagian besar penduduk Jakarta yang produktif untuk berangkat dan pulang kerja. Bahkan pernah, dengan kehadiran tranportasi yang baru ini, malah menjadikan kemacetan semakin menggila. Keluhan masyarakat bermunculan.

Sebagai konsumen, kadang saya merasa diuntungkan dengan kehadiran busway, terkadang malah merasa dirugikan. Keuntungan yang paling saya rasakan adalah biaya penggunaan fasilitas busway yang relatif mrah, dibandungkan dengan benefitnya yaitu enaknya menikmati fasilitas AC dalam setiap bus, dan bisa pergi dari ujung hingga ujung pelosok Jakarta selama dilalui jalur busway dan tidak keluar dari stasiun busway.

Kedua adalah jalur busway mempunyai jalurnya sendiri, dan tidak terganggu oleh tranportasi umum lainnya maupun kendaraan pribadi, sehingga terkadang kita seolah-olah ‘ terselamatkan’ dengan adanya busway. Melaju tanpa hambatan. Ketiga, adalah kondisi bus yang cenderung rapi dan bersih. Pengguna busway dilarang untuk makan, minum dan merokok di dalam bus dan pelarangan untuk membuang sampah, sehingga kondisi bus cenderung bersih.

Keempat adalah ketertiban yang mulai diciptakan oleh fasiltator busway kepada pengguna. Pengguna busway diwajibkan untuk mengantri, mengurangi terjadinya keserobotan. Perhentian bus di tiap halte, dan tidak berhenti di sembarang tempat juga melatih kedisiplinan para pengguna. Dan kondektur bus yang tidak ‘memunggut’ pengguna di sembarang tempat. Semua ada tempatnya. Saya menyukainya.

Kerugian yang saya rasakan, adalah terkadang kesigapan dari para pekerja maupun fasilitatornya masih kurang. Saya pernah menunggu 1 JAM untuk lewatnya 1 buah bus.
Tentunya hal ini sangat merugikan saya dalam hal waktu, dan kelelahan karena lama menunggu. Padatnya antrian, dan kadang terasa oksigen yang kurang, membuat para pengantri mulai terbawa emosi. Caci maki mulai keluar, menyalahkan bus yang terlalu lama.

Saya tidak tahu apakah jumlah bus kurang atau kurangnya kesiapan dalam mengatur alur bus, sehingga terjadi antrian yang demikian panjang. Seharusnya para pekerja busway selalu sigap, mengingat fasilitas busway ini sudah dirasakan benar manfaatnya oleh masyarakat Jakarta yang rela mengantri sedemikian panjang dan lama. Hendaknya para pekerja bisa meningkatkan dan selalu memperbaiki pelayananannya kepada masyarakat.
Jadi tidak pernah lagi terdengar, bahwa bus-bus itu sedang dalam perhentian untuk mengisi bahan bakar, atau terjadinya kerusakan lainnya.

Satu lagi, jalan busway ternyata juga tidak luput dari rusaknya sebagian jalan-jalan di Jakarta. Rusaknya jalan tersebut memperlama laju busway karena supir harus memperlambat jalan busway agar tidak terjadi kecelakaan. Mohon kepada pemerintah juga bisa memebri perhatian lebih terhadap kondisi jalan di Jakarta.

Akhirnya, saya tetap senang dengan fasilitas busway, hanya perbaikan dan peningkatan tetap perlu dilakukan secara berkesinambungan. Ayo, busway….capailah targetmu untuk mengurangi kemacetan Jakarta. Salam.

Ojek dan Blue Bird
Beberapa hari yang lalu saya menggunakan jasa ojeck (kata Cinta) untuk pergi ke Rasuna Said. Pada saat tawar-menawar, situkang ojeck seolah oke dengan tujuan dan harga. Tapi kenyataannya, dari Grogol hingga ke Rasuna Said, kami membutuhkan waktu sejam setengah. Saya bertanya ke abangnya, ‘Bang, sebenarnya tau ga jalan ke Rasuna Said ?’ Dia mengiyakan, tapi dia selalu memberikan informasi yang salah mengenai jalan Rasuna Said. Jelas-jelas kita ada di Jalan Setia Budi, atau jalan Sr. Satrio, tapi dia menyatakan bahwa ini jalan Rasuna Said. oh..oh…

Akhirnya setelah mencapai jalan itu pun, kita tidak berhasil menuju gedung tempat tujuan saya, kami harus berputar-putar tidak menentu. Dan setelah sampai, dia minta tambah ongkos.
Aku rasa trik ini cukup sering digunakan oleh para tukang ojeck agar bisa mendapatkan biaya lebih dari hasil kegiatan tawar-menawar. Maka, bagi para teman yang menggunakan jasa ojeck dan tidak tahu jalan, harap berwaspada dengan trik ini.

Ternyata selain ojeck juga, tidak kalah trik dari supir Blue Bird. Sungguh kecewa saya, karena saya penggemar setia Blue Bird. Saya percaya dengan service Blue Bird selama ini. Tapi belakangan ini service yang diberikan menurun. Pernah saya menggunakan fasilitas dari Bandara Soekarno-Hatta ke Metro Permata, yang seharusnya bisa ditempuh hanya 30-40 menit, tapi saya harus menghabiskan waktu 90 menit bersama si supir. Si supir mengajak saya berputar juga ke Palmerah. Coba bayangkan jauhnya. Saya sempat protes kepada supir, tapi dia tetap mau menggunakan jalur tersebut. Sebalnya lagi, saya sempat menyarankan untuk menggunakan fasilitas Blue Bird untuk telepon ke Call Center untuk menanyakan jalan apabila memang tidak tahu. Tapi dia mencoba dan mengatakan bahwa ditolak dari Call Centernya. Bagaimana ini Blue Bird ?

Si supir malah mengajak saya bercerita banyak untuk mengalihkan perhatian saya di jalan. Ketika saya sadar, kami sudah di Slipi. Saya akui bahwa saya tidak tahu jalan Jakarta dengan baik. Tapi Blue Bird sebagai kepercayaan banyak orang untuk transportasi mereka, bagaimana jika sudah begini ?

Menurut kakak saya, seorang supir taxi Blue Bird yang berdinas di daerah Jakarta Barat, masakan tidak tahu jalan dari Bandara ke Metro bisa menggunakan tol Cengkareng. Saya merasa ditipu oleh supir Blue Bird. Blue Bird, mohon ditindaklanjuti sebelum semakin banyak supir Blue Bird yang seperti ini. Terima kasih.

This entry was posted in My Journey & Opini and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Transportasi di Indonesia

  1. Sugi says:

    Wakakakakakakakak… minta doa dulu? wakakakakakkka

    Btw, udah di KL, mel?

  2. Melisa says:

    iya…tapi setelah aku pergi dengan penerbangan yang sama 2 kali, ternyata memang style mereka seperti itu. Pada saat akan berangkat, mereka akan meminta untuk berdoa dulu.

    iya..aku udah di KL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Notify me of followup comments via e-mail. You can also subscribe without commenting.