Lasik, Operasi Tanpa Pisau

Siapa pun tentu mengidamkan memiliki mata sehat dan indah. Kenyataannya, banyak orang terkena gangguan refraksi mata sehingga harus memakai kacamata atau lensa kontak. Bagi penderita gangguan refraksi mata yang tinggi, pemakaian alat bantu itu menimbulkan rasa tidak nyaman dan menghambat aktivitas sehari-hari.

Dengan teknologi canggih, kini penderita gangguan refraksi mata bisa terbebas dari kacamata atau lensa kontak dengan menjalani prosedur lasik (laser-assisted in-situ keratomileusis). Terapi ini mengubah bentuk lapisan kornea sehingga bisa mengoreksi kelainan refraksi mata rabun jauh (miopi), rabun dekat (hypermetropia), atau mata silinder (astigmatisme). Terapi itu mampu mengoreksi kelainan refraksi mata dari +4 sampai -14 diopri. Mata silindris bisa dikoreksi dari -0,5 sampai -5.

Namun, tak semua gangguan refraksi mata bisa dikoreksi dengan lasik. Penderita kecekungan mata terlalu tinggi, glaukoma, mata kering, dan kelainan retina dianjurkan tidak menjalani operasi lasik. Syarat lain, pasien berusia 18 tahun ke atas, tidak sedang hamil, penglihatan stabil minimal enam bulan, tidak menderita diabetes dengan kadar gula tidak terkontrol.

Lasik konvensional memakai alat mikrokeratom, semacam pisau elektrik, untuk membuka lapisan permukaan kornea mata, kemudian sebagian lapisan kornea dihilangkan dengan laser. Lapisan permukaan kornea yang dibuka (flap) akan dikembalikan ke posisi semula.

Terapi ini dapat dilakukan pada kedua mata bersamaan. Setelah lasik, pasien kemungkinan merasa lelah, mata merah, tidak nyaman, mata seperti berpasir dan sensitif terhadap cahaya, penglihatan terasa berkabut. Gejala-gejala ini terasa selama 1-6 jam pascatindakan.

Sejauh ini tingkat keberhasilan operasi lasik konvensional mencapai 90 persen. ”Tidak semua penderita gangguan refraksi mata perlu prosedur lasik. Ini pilihan bagi pasien,” kata dokter spesialis mata dari Klinik Mata Nusantara, Hadi Prakoso, dalam Bali Ophthalmology Retreat, pekan lalu, di Jimbaran, Badung, Bali. Juga, tidak semua operasi lasik memberi hasil memuaskan. Kadang-kadang terjadi tajam penglihatan pascatindakan yang kurang atau berlebihan (under atau over correction). Ini bisa diperbaiki dengan laser tambahan setelah kondisi mata stabil atau dalam tiga bulan setelahnya.

Pasien juga bisa silau saat melihat pada malam hari. Efek samping lain adalah gejala mata kering yang akan hilang dengan sendirinya. Flap kornea bisa bergeser jika terjadi trauma pada mata, misalnya menggosok bola mata terlalu kuat. Flap akan melekat cukup kuat setelah seminggu.

Sejauh ini, menurut ahli bedah refraktif, dr Brian Boxer Wachler, dalam situs www.allaboutvision.com, komplikasi dalam prosedur lasik konvensional biasanya terkait pembuatan flap yang salah. Pembukaan lapisan permukaan kornea mata kemungkinan terlalu tipis.

Sejumlah studi yang dipublikasikan American Journal of Ophthalmology menyebutkan, komplikasi pembuatan flap berkisar 3-5,7 persen dari total jumlah pasien lasik. Komplikasi terkait pada pembuatan flap antara lain bentuk flap tidak normal, infeksi mata—akibat ahli bedah kurang berpengalaman.

Intralase lasik

Ahli mata dari FreeVis LasikCenter Fakultas Kedokteran Mannheim Universitas Heidelberg, Jerman, Michael Knorz, menyatakan, lasik telah diakui Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) Amerika Serikat lebih dari sepuluh tahun silam. Namun, baru September 2007 Badan Nasional Ruang Angkasa dan Aeronautika AS (NASA) menyetujui penggunaan prosedur intralase (laser) lasik atau dikenal dengan istilah iLasik.

Terapi intralase lasik merupakan teknologi baru yang kini dikembangkan di sejumlah negara di dunia, termasuk Indonesia. Dalam iLasik, pembuatan flap tidak memakai pisau elektrik, namun dengan femtosecond laser 60 kilohertz. Jadi, mata pasien tak tersentuh pisau bedah.

Prosedur iLasik menggunakan peranti lunak komputer untuk memandu laser intralase dalam membuka lapisan permukaan kornea mata. Dengan laser khusus, flap kornea dibuat dengan presisi dan tingkat keakuratan sangat tinggi, tajam penglihatan lebih baik daripada saat pasien memakai kacamata. Terapi ini juga lebih aman, dengan lasik tanpa pisau berarti menghilangkan sumber utama penyebab komplikasi pembuatan flap.

Keunggulan lain operasi lasik tanpa pisau bedah adalah mengurangi gejala mata kering, flap lebih tipis, kemungkinan under atau over correction lebih jarang terjadi. Menurut ahli bedah refraktif iLasik Vance Thompson dalam situs www.allaboutvision.com, iLasik memberi peluang bagi seseorang yang tak dapat menjalani lasik konvensional, di antaranya karena lapisan kornea terlalu tipis, untuk melihat dunia tanpa alat bantu.
(Kompas, Rabu, 30 Mei 2008, Evy Rachmawati)

This entry was posted in Kesehatan and tagged , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Lasik, Operasi Tanpa Pisau

  1. Minum says:

    apakah di indonesia baru dijakarta aja ya?

  2. melisa says:

    operasi lasik bisa ditemukan di kota-kota besar di Indonesia, seperti Surabaya.

  3. ten vaanholt says:

    searche for a eye spesialist from germany in bali
    very urgent

  4. amrullah says:

    mohon bantuan apakah Lasik sudah membuka cabang di Makassar

  5. wew canggih abies… 🙂

  6. ida bagus adi pargama says:

    apakah di bali sudah ada operasi lasik??

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Notify me of followup comments via e-mail. You can also subscribe without commenting.